Rabu, 02 Juni 2021

Tentang Rindu

Jika bibirku berkata rindu tapi tak cukup bagimu, maka lewat perantara doa kulangitkan perasaanku.

Perasaanku terdalam, hanya Tuhan yang tahu. Ia menyelami hatiku, menumbuhkan rasa ini kian subur. Semakin hari, tidak berkurang, selalu sama, bahkan di suatu waktu tertentu seperti dilebihkan. Tahukah pada waktu apa? Ya, ketika aku sudah merasa lelah dan ingin menyerah. Perasaan itu seolah bergejolak, menolak untuk berhenti, hingga akhirnya aku menyerah dan mengikuti alur perasaanku yang menuntut untuk tetap merindukanmu.

Aku tahu, orang-orang akan menganggapku tidak tahu diri, atau bahkan bodoh karena aku tetap bertahan di sini, tapi aku berdiri dengan kedua kakiku sendiri, menopang bahuku sendiri, jadi untuk apa mendengarkan anggapan mereka yang tidak bisa merasakan menjadi aku?

Maka aku memilih diam. Memilin rindu dalam keheningan. Biar dadaku yang bergetar, biar tengadah tanganku yang jadi saksi berapa kali namamu kusebut dalam sehari.

Maka aku memilih diam. Biar mereka berpikir aku baik-baik saja. Sebab perasaanku, mereka tak dapat merasa. 

Maka aku memilih diam. Tapi gaung doa jauh lebih keras dari isakku. 

Kepada Tuhan, aku pasrahkan segala harap.
Kepada Tuhan, aku tidak akan banyak meminta selain meletakkan rasa rindu ini pada tempatnya. Ialah padamu saja. 

Tidak ada komentar: