Selintas aku melewati sebuah ruangan yang temaram. Hanya sorot cahaya dari ruangan lain yang membuat suasana menjadi khusyu. Aku melihatmu berdiri tegap dan aku yakin kedua tanganmu tengah bersedekap membaca Alfatihah dan doa pendek lainnya. Bahumu yang lebar, dan aku pun jelas tahu bahwa dadamu sungguh bidang.
Aku memutuskan berhenti sejenak. Mengamatimu yang kemudian mulai membungkukkan badan, ruku'.
Lalu aku masih memusatkan pandangan sampai kau sujud terakhir sampai berdoa.
Hatiku kemudian bergetar. Tangis kutahan ketika bapakmu mengejutkanku. Beliau keluar dari kamar yang bersebelahan dengan ruangan tempat kau sembahyang.
Bapak menoleh padamu, lalu berkata padaku, "Masih subuhan."
Aku mengangguk dan lekas berlalu ke kamar. Membayangkan kembali pemandangan subuh yang kuidamkan bisa menjadi makmum tepat di belakangmu.
Kau tak pernah tahu cerita ini, karena aku menyimpannya sendiri sebagai kenangan manis. Baru sekarang aku berani menuliskannya ketika kau sudah jauh pergi. Tetapi kau tetaplah dekat di ingatanku, dan dengan begitu saja telah mampu menggetarkan hatiku.
Aku tidak akan meminta padamu, melainkan kepada yang memilikimu. Ia adalah Tuhanku, Tuhanmu, Tuhan kita.
Selalu kupintakan pada-Nya agar kelak kau dijadikan imamku. Karena luas sabarmu yang tak terukur. Tulus kasihmu yang kini amat kuinginkan. Selalu kupintakan, jika memang kelak kau adalah takdir bagi diriku, maka Tuhan akan menguatkan perasaan dan memberiku alasan bertahan lebih lama.
Namun, jika sebaliknya, kuharap Tuhan menghapus perasaan ini dan tetap membiarkanmu tersimpan sebagai ingatanku saja.
Hai, lelaki yang kerap menyanyikan lagu sunyi, petik gitar dan merdu suaramu adalah damba bagi rinduku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar