Minggu, 16 September 2018

Ia yang Bertopeng

Baju lusuhnya membungkus kulit legam,
keriput dan keletihan
Topeng di wajahnya tak pernah berganti
dengan kedua mata berbinar
senyuman mengembang
seolah tak ada beban

Tapi kenapa aku berpikir ia hanya berpura-pura?
Apakah karena aku pandai berpura-pura
jadi pada setiap kepura-puraan mudah saja kuterka?

Ia tersenyum, menanti siapa saja
yang sedia memesan semangkuk bakso
seharga tiga ribu di era digdaya
Ia meramu sepi, melihat lalu-lalang
mendengar bising kendaraan
Baginya, itu adalah ketenangan
dari pada melihat kenangan yang
menggantung di atap rumahnya

Mataku menangkap letih yang coba ia bungkus
Telingaku mendengar lenguh dari gelisahnya
Hidungku mengendus aroma kesedihan menempel
pada tubuh tua itu

Ia masih saja tersenyum, saat angin mengempas pipinya
dan menerbangkan sehelai daun yang baru gugur
Bakso, bakso, bakso,
katanya lirih, memanggil siapa saja yang sedia
membeli bakso seharga tiga ribu di era digdaya

Kharisma
September, 2018

Selasa, 11 September 2018

KITA ADALAH LAKON

Selamat menjemput malam, sebentar lagi senja tenggelam dan bulan menggantikan kedudukan.

Salam untuk kita semua yang senantiasa masih memelihara hati agar tetap terjaga dari rasa sakit akan kenangan masa lalu. Dan salam untukmu yang perlahan hadir, mengisi kesunyianku, painted smile in my face, membuang jauh-jauh kesedihan yang lama kusimpan.

Senja ini, aku ingin sekali berteriak. Memperdengarkan pada alam bahwa hatiku tengah bergejolak. Karena siapa? Jawabannya adalah kau, tentu saja!

Tidak bisa dipungkiri, hal-hal yang pernah terjadi dalam hidup kita akan terus mengikuti. Tapi, bukan berarti kita harus tinggal di masa lalu selamanya bukan? Barangkali singgah sebentar untuk kemudian kembali sadar dan memperbaiki kesalahan.

Aku punya masa lalu, kau pun begitu. Kita menutupnya tanpa bercerita apa-apa. Sekarang, yang terpenting adalah apa yang harus kita lakukan untuk saat ini dan nanti suatu hari.

Tuhan adalah sutradara terbaik. Skenarionya sempurna! Dan kita lakon yang tabah memerankannya.

Kau...
Aku tahu rasa ini pernah menderaku sebelumnya sampai akhirnya aku mengenal apa itu kecewa, berteman air mata dan mencari pelipur dari kehilangan. Beberapa kali, aku coba menenangkan hatiku sendiri saat gelisah. Bermain-main dengan perasaan yang aku sendiri tidak memahaminya atau merasakan kedamaian. Berapa banyak yang singgah tapi tidak untuk menetap. Mereka yang lama-lama bosan dengan sikapku, mereka yang memandang sebelah mata, mereka yang kuabaikan karena tidak ada kenyamanan yang terasa. Atau sekali waktu, aku merasa nyaman dengan seseorang, tapi kemudian aku sadar, bahwa seseorang itu hanya mempermainkanku untuk mengisi kesunyiannya dan aku berhenti mengenalnya. Lalu seseorang itu datang lagi di saat yang tidak tepat, di saat aku mulai melupakannya dan menyimpulkan bahwa aku sama jahatnya seperti dirinya, menghibur diri dengan bermain perasaan.

Kau tahu,
Perasaan ini jarang kumiliki. Kenyamanan pada beberapa orang tidak lantas membuatku merasa berdebar seperti ini. Aku senang melihat namamu tertera di notifikasi pesan whatss app, aku girang saat kau menelepon, aku --apa yang harus kukatakan lagi-- tidak sanggup berkata saat mendengar suaramu. Suara itu, suara yang dari dulu kusukai bahkan saat pertama kali bertemu. Aneh ya, kenapa dari suara itu aku jadi memikirkanmu?

Lalu kau bernyanyi... Memainkan gitar...
Aku memejamkan mata, membayangkan kau ada di sampingku. Menyanyikan lagu untukku. Kau tidak melihat, rasa bahagiaku saat mendengarmu bernyanyi. Kau tidak tahu, air mataku jatuh entah kenapa.

Sebelum ini, berapa banyak pesan dari mereka kubalas demi menghibur sepi. Mengobrol tentang apa saja, tapi lama-lama aku bosan. Perhatian-perhatian yang mereka berikan justru membuatku risih.

Berbeda denganmu. Kita rutin bercerita meski kadang terjeda waktu dan kesibukan. Aku selalu menunggu balasanmu, menanti segala hal tentanmu. Aneh kan? Aku tidak pernah begitu pada yang lain.

Aku tidak malu harus menulis ini bahkan jika kau membacanya. Aku jujur dan semoga tidak ada kesalah-pahaman. Sekarang, aku jadi lebih membatasi diri seperti dulu. Sikapku menjadi kaku pada siapa saja yang tidak kuingini. Aku malas membalas pesan-pesan entah dari siapa itu. Karena satu hal, kau!

Dan ya, aku tahu konsekuensi dari apa yang kurasakan saat ini. Bagaimana pun nantinya, aku sudah pasrah. Sekali lagi Allah adalah sutradaranya. Skenario (baca: rahasia)-Nya sempurna! Kita lakon yang tabah memerankannya.

Magetan, 2018

Minggu, 19 Agustus 2018

ANAMNESA

I
Nyeri di sekujur tubuh ini
membuat langkah semakin gontai
hendak dibawa ke mana semua mimpi
yang lama ditahan hati?

II
Tensi terlampau tinggi
pantas jika emosi meluap-luap
kala kehendak yang diharap
berakhir jadi ratap

III
Pusing di kepala mengingat
senyum yang semakin pudar
di gurat bibir kekasih
Ia sudah jauh pergi
meninggalkan sepi yang teramat cemas
pada pelukan paling panjang: kesendirian

IV
Dok, beri saya obat mujarab
untuk sembuhkan kedukaan sunyi ini

Kharisma
Magetan, Juli 2018

Jumat, 17 Agustus 2018

KAU ADALAH RUMAH


Di tubuhmu, kubangun rumah sederhana
di mana aku selalu pulang
mengistirahatkan hati
yang telah lama menyisir perjalanan panjang
juga mengusir sepi denganmu

Kita duduk di beranda
membaca koran atau novel
bertukar pandang dan pikir
tentang apa saja

Dua cangkir teh di meja
sepiring pisang goreng
menjadi teman kita menanti senja
yang selalu hadir dengan kehangatan
dan kita terlena sampai malam tiba

Ketika malam naik ke singgasana
bulan bertakhta bagai raja
dengan ribuan bintang sebagai dayangnya
kita masih saja duduk di beranda
merasakan embusan lirih angin
membuat bayangan rasi-rasi
menghitung waktu yang mengantarkan kita
pada pagi hingga ke satu hari
saat di mana kita tak mengenal lagi

Kharisma
Magetan, Agustus 2018

Senin, 13 Agustus 2018

IBU


Ibu...
Mataku basah lagi
sebab kenangan turun deras malam ini
sedang aku tak berpayung
atau mencari tempat berteduh

Ibu...
Kiranya kau ada di sini
ingin kuungkap keresahan
perihal rindu yang panjang

Ibu...
Aku tahu tak akan ada akhir
dari cintamu juga rasaku
yang pilu karena kehilanganmu
tapi tetap kusemogakan kau
dari sini, dari tempatku menepikan diri
untuk kebaikanmu di manapun berada

Kharisma
2018

Minggu, 08 Juli 2018

WHEN THE HEART IS OPEN

Well, aku masih berpikir-pikir apa benar saat ini hati sudah terbuka? Apa benar aku siap menerima orang lain, orang baru dan menceritakan (kembali) tentang Who am I?

Lelah pastinya harus melakukan hal tersebut. Bagaimana tidak, aku pribadi takut, kalau-kalau orang baru itu tidak mau menerima, lantas perlahan pergi dan akhirnya... Bertemu orang baru lagi, melakukan hal yang sama, again and again!

Jadi, aku berpikir, untuk apa sebuah hubungan dengan ikatan pacaran itu jika kita tidak bisa menebak bagaimana akhir sementara untuk memulainya begitu mudah?
Pacaran bertahun-tahun, ikatan yang semua orang berharap berakhir bahagia: menikah. Tapi, ya, kadang kenyataan tak akan sejalan dengan harapan kita bukan? Banyak yang mengalami kegagalan dalam pacaran dan musnah sudah rencana duduk berdampingan di pelaminan. Hasilnya? Sakit hati. Benci. Kecewa pada harapan sendiri. Sedih ya? Iya! Tapi di awal aja kok, asal kita nggak berlarut-larut aja merasakan sesaknya.

Pribadiku sendiri mengalami hal demikian. Bahkan ketika kedua belah pihak keluarga sudah dipertemukan, pertunangan dilangsungkan, akhirnya, pernikahan hanya jadi makam yang harus kuberi nisan PENYESALAN.

Nggak kebayang sakitnya, tapi ya, aku berpikir lagi bahwa hidup masih harus berlanjut--kan ini sudah umum ya? Jadi, aku coba membuka hati dan apa salahnya jatuh cinta lagi, memulai hubungan dengan orang baru?

Tapi, pahitnya, tahun demi tahun yang aku jalani dengan -kalian nggak usah tahu-- harus berhenti tepat saat aku sedang berada di puncak harapan. Kecewa, hancur, itulah yang menyebabkan aku susah jatuh cinta lagi atau bisa dibilang trauma.

Nggak banget ya? Lemah banget sih!

STOP! Aku nggak mau terus-terusan jadi orang bodoh yang memendam harapan, kekecewaan, dan rasa sakit sampai berlarut-larut. Aku mulai melihat sekitarku, mencoba mengenal mereka yang ingin mengenalku. Dan itu susah!

Kadang, aku merasa akan cocok, tapi semakin mengenal, aku jadi membayangkan masa lalu dengan seseorang. Membandingkan keduanya sampai aku menemukan celah, sebut saja alasan mengapa aku memilih mundur.

Dan saat ini, aku nggak mau memiliki sebuah hubungan maksudku terikat dengan yang namanya pacaran. Capek lah! Buat apa pacaran? Toh kita nggak akan tahu ke mana akhirnya.

Siapa saja bisa mengenalku tapi hanya akan ada beberapa yang mengenal baik siapa aku. Yang harus kita semua ketahui, nggak pacaran bukan berarti nggak bisa buka hati ya! Salah besar!

Santai saja, aku menerima siapa saja yang berusaha ingin mengenaliku dan hati yang menentukan dengan siapa aku merasa nyaman. Ini juga bukan berarti kesetiaan nggak dibutuhkan ya! Asal aku merasa nyaman dan, ehem, dia bisa menerima aku begini adanya, pasti aku bisa membatasi diri dengan orang-orang sekitar.

Terus kalau nggak pacaran apa dong namanya? Menggantung gitu hubungannya?

Jawabanku, kita sudah dewasa dan bisa berpikir, kalau serius pasti tahu kan apa yang terbaik buat ke depan?

Hehehe, :)

Minggu, 04 Maret 2018

TENGGELAM DI LAUTAN RINDU

Rindu umpama lautan, tak mampu diselami
bahkan sampai habis hari
Sampai di kedalaman yang mana bisa kutemukan
arti kehadiran: perjumpaan, mata bertemu mata
kisah bermula?

Di palung yang mana bisa kupulangkan rindu?
Telah jauh kuberlayar mengarungi lautan wagu
terombang-ambing bersama debur ombak
dan siut angin mengarah ke segala penjuru

Bila tak ada...
Biar aku tenggelam
hilang terbuai hangatnya air lautan
yang menggaramkan harapan di dada,
di kepala, di doa, di sekujur tubuh yang fana

Kharisma  De  Kiyara
Magetan, Februari 2018