Rabu, 03 Juli 2019

Lagu Menjelang Pagi

Sekali-kali, aku bangun lebih dini
bahkan mendahului matahari
ada hal yang sengaja ingin kulakukan
bukan sekadar duduk merenung
mengingat sisa hari kemarin
melainkan menekuri tiap detik
dengan merasakan limpahan nikmat
juga selamat bagi hari baru

Sekali-kali, aku bangun lebih dini
bahkan sebelum embun jatuh
telah kubasuh basah hatiku
dengan limpahan doa
yang mengalir di tengadah tangan

Sekali-kali, aku bangun lebih dini
dan bertekad esok memulai lagi
membangunkan semesta yang lelap
lewat nyanyianku di kala senyap

Magetan, 03 Juli 2019

Selasa, 02 Juli 2019

Hari Sebelum Senja

Sebelum senja tiba, kuantar surat ke rumahmu. Nun jauh di sebalik bukit yang rimbun bambu dan disekat hamparan batu. Suratku tak lebih berisi untaian huruf, sebentuk kata. Aku yakin, satu kata itu saja dapat membuatmu paham tentangku.

Aku tahu, kau tak pernah bertanya bagaimana kabarku atau sedikit saja menitipkan pesan-salam lewat deru angin. Tidak. Kau tidak melakukannya. Ketidakberdayaanmu itu adalah jawaban dari segala risauku. Hingga tak usah lagi kubertanya mengapa kau tetap bergeming, meski kupanggil-panggil nama kau dari jarak sekian jauh.

Akhirnya, sebelum senja tiba, surat itu telah sampai pada kau. Tidak ada ucapan selamat datang, kecuali ribuan beburung terbang memutar di atasku. Suasana gaduh tercipta dari cericitnya. Aku tak paham mereka sedang memberi tanda soal apa.

Kau di sana.... Bersandar pada semesta. Menatap jauh ke arah yang tak bisa kugapai. Aku hanya tersenyum. Sebab sekeras apapun kupanggil-panggil nama kau, adakah kau akan berbalik menatapku? Tidak! Aku tahu, tidak akan pernah terkabul apa yang jadi inginku.

Maka, sebelum senja tiba. Kutinggalkan saja surat itu di sebuah permadani yang menghias halaman rumahmu. Berharap setelah aku pulang nanti, kau akan membacanya. Tolong, bacalah surat berwarna jingga ini. Jangan biarkan ripuk seperti surat-surat sebelumnya yang selalu kau abaikan.

Ibu, saat aku berbalik nanti, ingin rasanya kudengar kau mencegah pergi. Banyak sekali keinginan yang tak akan habis jika kutuliskan. Apakah aku terlalu serakah?

Dan tiba matahari angslup, perlahan melingsir ke barat. Semburat cahaya keemasan menyilau mata, membuat duka mengalir dari celah kedipnya.
Ah, Ibu! Terima kasih telah membaca surat berwarna jingga dariku yang hanya bertuliskan RINDU.

Magetan, 02 Juli 2019

Senin, 01 Juli 2019

Bingkai Waktu

Malam meninggi
sementara sepi menepi
ribuan bintang menantang
langit seakan runtuh
menunggu untuk jatuh

Hati-hati sekali, waktu berbisik
layaknya desahmu di kala lelap
"Cinta mana yang kau jaga?
Tidakkah aku saja sudah lebih
dari segala-gala?"

"Berikan padaku rahasia itu,
bagilah denganku! Sebab aku
tak akan pernah menelan mentah
cerita, dan mengabadikannya
meski kau dikenang nama."
Waktu masih saja berbisik,
seolah akan ada jawaban
dari bibirmu yang bulan sabit

Detik melucuti detakmu
waktu pun kembali berucap
"Ceritamu ada bersamaku.
Wahai, tenanglah! Akan kujaga
siapa yang kau cinta
berbekal doa-doamu
yang diamini semesta."

Kau pun, meniada...

Lalu, kudengar waktu
nembangkan kau di telinga
betapa semesta tak pernah lupa
kau adalah bagian daripadanya
pun dari napasku juga

Bagaimana aku akan lupa?

Magetan, 01 Juli 2018

Kamis, 11 April 2019

Mbah, Bacalah dengan Tabah!

Melihat orang-orang yang seusiamu, sedikit mengobati rasa rinduku yang di saat kau masih ada tidak pernah kukatakan sayang atau hal-hal manis lainnya.
Baru setelah kepergianmu, aku merasa bodoh. Sangat bodoh! Tahun-tahun saat bersamamu tak pernah kumanfaatkan dengan baik. Justru setelah kau tiada, aku ingin kembali berbalik pada waktu lampau, merencanakan hal-hal yang ingin kuabdikan padamu.
Lihat, Mbah! Di sekelilingku kini, banyak orang-orang seusiamu yang tidak lelah mengobati keluhan-keluhan pada tubuhnya. Pusing, meriang, keringat dingin, linu, seluruh badan terasa sakit. Ya, keluhan-keluhan yang wajar dirasakan pada seusiamu.
Mirisnya, Mbah! Sebagian dari mereka datang seorang diri. Tidak ada siapa pun di samping mereka. Diam, menunggu antrian, merasakan sakit, yang apabila waktu mereka tiba diperiksa, senyum masih bisa disunggingkan di bibir mereka.  Bayangmu muncul lagi. Bagiku, mereka menjelma jadi kau. Sosok yang ingin kurawat juga. Yang jika aku jadi anak atau cucu salah satu di antara mereka, akan kutemani dan mendengar keluh kesahnya.
Sebagian lain diantar sanak saudara, dan membuatku iri karena kepedulian yang tulus terbaca dari raut wajah mereka.
Mbah, di tempatmu yang entah di mana sekarang, yang kuharap senantiasa terjaga dalam kedamaian, terima kasih telah mengajarkan sesal dan rindu di waktu bersamaan. Bukankah selain doa, yang bisa kulakukan sekarang hanyalah berubah menjadi pribadi yang lebih peduli? Ya, aku ingin dan akan melakukannya.

Magetan, Juli 2019

Sabtu, 09 Februari 2019

Hujanku

Hujanku,
entah bagaimana lagi aku sebut kau
sebab musim selalu sama tiap tahun
nguar bau basah, suara ricih jatuh
hangat dalam dekapmu, lenyapkan
telusup gigil, aku tak pernah beku

Hujanku,
tak ada kemarau di sini
hanya ada tetes-tetes kian deras
genangi lapang hatiku
sanggup tampung berapa pun volume
tak akan meluap, tak akan jadi bencana
percayalah, hujanku!

dan saat orang-orang sibuk
benahi atap rumah, perbaiki tanggul jebol
aku dengan tabah mencintaimu
hujanku, tak peduli sederas apa kau jatuh
hatiku rela basah, demi kau
demi pertemuan kita

Hujanku,
kusanggup terima guyuranmu
sepanjang tahun tanpa henti itu

Magetan, Februari 2019

Menatapmu

Aku menatapmu di remang malam begini
sambil ngoceh tentang harga-harga sembako
sampai tetangga ribut soal biaya sekolah

Kau sama sekali tak berkutik
kaki bersila, genggam cerutu
sesap, kepulkan asap di udara
sejenak berpaling saat anak-anak
berlarian saling kejar disertai teriakan
mamaknya untuk sudahi malam dengan lelap

Lekas-lekas kau kembali menatapku
sedang sedari tadi aku menatapmu
terpukau cara bibirmu mendedah resah
lewat cerutu--buatku ingin lemparnya jauh
agar kau bicarakan saja isi pikirmu

Kini, aku sudah henti ngoceh
lelah tak dapat satu respon darimu
Ayo, bicarakan resahmu, kasih!
Apa guna aku menatapmu bila
tak bisa kau baca betapa berharap aku!

Magetan, Februari 2019

Sabtu, 12 Januari 2019

Menemukan Seseorang

Ah, ayolah kawan! Apa yang membuatmu enggan membuka jendela, sementara kamarmu kian sesak dengan jelaga resah? Biarkan udara menyejukkanmu. Biar dibawakannya kabar-kabar untukmu. Biar kau lihat betapa dunia penuh warna, tak peduli sedih dan senang, tetap saja kita punya kendali atas semua.
Dengan ini saya persembahkan kata-kata, untuk kita yang sedang merayakan rasa cinta --khususnya untuk saya sendiri dan sahabat saya yang berbunga hatinya, Viga PC.

Tetap saja Ia tak akan berhenti
menumbuhkan rindu di dada
Tetap saja Ia tak akan membunuh
perasaan manusia seberapa pun besarnya kecewa

Serangkaian cerita di masa lalu
hanya akan menjadi kilas balik
di mana bisa kita tengok sewaktu-waktu
saat sesal berkelebat,
bagaimana bisa cinta begitu membunuh dan menyakitkan,
mengapa kita bisa diperdaya perasaan,
satu hal, kita sedang dikuatkan

Lalu, kita temukan seseorang
Lagi... Lagi... Lagi...
Seseorang yang Ia tunjuk
untuk membuka hati kita
menguncinya kembali dan perlahan
gemuruh sesal pun reda
pudar pula bekas-bekas luka

Oh, kita temukan seseorang
dari rasa sakit dan kecewanya harapan
belajar dari yang sudah untuk kembali menjaga

Kharisma
Magetan, Januari 2019