Senin, 08 Mei 2017

Rembulan Kesepian

Hei! Perkenalkan namaku Rembulan. Bukan lelaki bukan juga perempuan. Bukan manusia bukan juga binatang apalagi tetumbuhan. Aku ciptaan Tuhan sama seperti kalian. Rumahku  di  langit  malam. Aku bergelayut di sana, sesekali bersembunyi di balik kabut pekatnya. Gigil dan  bintang-bintang  adalah  temanku, tapi  mereka  tak  pernah mengerti apa  yang  sedang  kujiwai. Jadi, aku  merasa selalu  sepi. Tunggu! Satu  lagi, ada yang kuanggap  sebagai  orang  tua  karena  dia  begitu  memahamiku. Pikiran  kami  kerap  kali  tak  beradu, selalu  padu. Dia  adalah  langit.

Malam ini tak  begitu  cemerlang. Langit  mengundang mendung. Dan  aku  tahu, kali  ini  langit  akan  menangis  lagi. Aku  tak  kuasa  mendengar  tangisannya  yang  menyayat. Maka  kuputuskan untuk  bertandang  ke  rumah  kerabat  mencari  kedamaian. Di  sebuah  bilik, seorang  gadis  sedang  menyulam  kata-kata  menjadi busana  aksara. Aku  mengamatinya sepanjang  malam. Ia  pun  sama  sepertiku, selalu  kesepian. Pertama  kali aku  berkenalan  dengannya  ialah  dua  minggu  lalu. Saat  aku  ketahuan  mengintipnya  dari  balik  jendela  kayu. Dia  baik, tidak  marah  padaku. Malah  mengajak  masuk  ke  biliknya. Kami  bercanda  dan  saling  bercerita  apa  saja. Dia  bilang  suka  cahayaku, meneduhkan, katanya. Semenjak  itu  kami  berkawan. Setiap  ia  hendak  tidur  dia  sempatkan  menyapaku  sekadar  mengucapkan  selamat  malam. Kali ini kuketuk  jendela  kamarnya  perlahan  berharap  dia  belum  terlelap. Menunggu  beberapa  saat  dan  jendela  pun  terbuka. Aku  masuk  lantas  bemanja  di  pangkuannya.

"Hei! Tumben, kamu  manja  sekali, Rembulan!" pekiknya  karena  melihatku  yang  manja.

"Aku  sedang  ingin  dimanja. Capek  tahu setiap  hari  bergelantungan  di  langit. Apalagi  saat  ini  langit  sedang  murka  hendak  menghujani  bumi  dengan  kekesalannya."

"Hah! Apa  maksudmu?"

Aku menjadikan langit  sebagai ibu  sekaligus  bapakku. Kami punya  pola  pikir  yang  sama. Terutama tentang  bumi. Malam  ini, langit  sedang  murka  seperti  kataku  pada  gadis  itu. Kuceritakan  musababnya  dan  dia  menyimak  dengan  seksama.

Tahu kah  kalian? Aku  dan  langit  sudah  bosan melihat  angkara  merajalela  di  bumi  Tuhan. Untungnya  aku  hanya  tahu  malam, coba  langit? Ia  menyaksikan  sepanjang  hari  kemelut  di  bumi. Kukatakan  padanya, "Sabar, sabar  dan  sabar." Padahal  aku  sudah  sangat  terluka  menjadi  saksi  hiruk  pikuk  bumi  di  malam  hari.

Bayangkan, kulihat  muda-mudi  berpegangan tangan  dan  berkorban  kemaluan. Mengenaskan. Bayangkan  lagi, kulihat  seorang  ibu  di  bawah  umur  membunuh  bayinya  di  kebun  sunyi ditemani seorang  laki-laki  yang  belum resmi  menyandang  status  suami. Iya  kalau  mereka  ditakdirkan  jodoh, kalau  tidak? Ah! Gila! Bumi  gila!

Aku  pun juga muak. Kerap kali kulihat wanita-wanita --asli, ada juga yang menyerupa-- berendeng memamerkan kemolekan di pinggiran kota atau di bangunan megah, mereka mabuk menjajakan diri. Demi menghidupi keluarganya agar tak kelaparan. Pria-pria membelinya dengan nafsu setan dan uang terbuang percuma. Padahal bisa saja, uang itu membantu bocah-bocah di kolong jembatan kota untuk sedikit menikmati napas yang layak. Menghirup wanginya ilmu dan kebahagiaan berarti lainnya.

Kau mau tahu lagi yang lebih membuatku frustasi? Darah-darah manusia berceceran bekas pertumpahan. Setiap kali aku melihat darah-darah itu, tubuhku menjadi Purnama. Merah berdarah-darah. Yang artinya aku menangis, menangis dan menangis. Sedangkan langit? Dia bercerita rezim di mana-mana. Memukuli mimpi anak-anak yang tak berdaya. Memisahkan mereka dari ibu bapaknya. Meluluhlantakkan jagad tempat mereka berdiam.

Kau tahu kan? Langit sering menangis akhir-akhir ini. Ia tak kuasa melihat dunia telah hilang kebersahajaannya. Penguasa memupuk sikah di kantong-kantong sakunya. Mereka membual  soal  janji-janji. Menjual  keramahtamahannya demi  materi. Sampai  demo  di  sana  sini. Yang  jadi  provokator diadili. Yang  sebenarnya  bersalah  lepas  jeruji  dan  lupa  diri.

Oh! Sudah  cukup! Aku  ceritakan  semua gelisahku  pada  gadis  itu. Ia  menangis  tersedu-sedu. Baru  tahu  dia  bahwa  aku  lebih  berat  menahan  duka  ketimbang dirinya  yang  hanya  putus  cinta. Kutenangkan  gadis  itu, "Berhentilah menangis  sayang. Jika  kau  ingin  dunia  ini  selamat  jangan  pernah  lepas  doa  dan  mintalah  keselamatan  untuk  semua  saudara."

Kali  ini, ia memintaku menemaninya sampai terjaga  di  waktu  sepertiga. Dia ngin aku mendengar doa-doanya. Dan aku berpikir tentu akan lebih indah dari sajak-sajak yang dituliskannya.

"Baguslah! Doakan  seluruh dunia!"

-Kharisma De  Kiyara-

Tidak ada komentar: