Selasa, 23 Januari 2018

Terima Kasih Untukmu

Untukmu yang pernah kusemogakan jadi bagian hidupku.

Barangkali kau tak membaca suratku ini, atau memang kau sudah tak lagi peduli. Tapi biarlah tetap kutulis, meski tak akan sampai padamu.

Terima kasih pernah jadi bagian singkat dalam kisahku. Aktor yang memerankan drama melankoli dan romantis. Terima kasih telah ikut andil dalam menorehkan jejak dalam perjalanan hidupku. Mengukir sejarah yang kemudian jadi kekal di ingatanku.

Kenangan. Pada akhirnya, kitalah yang melahirkan kenangan itu. Tanpa pernah kita tahu dan inginkan sebelumnya.

Terima kasih banyak untuk ketulusanmu selama ini  merawat  hatiku  meski  tak  bisa  kau  penuhi janji  yang  selamanya  itu.
Aku  sudah  merasakan  bahagia  bersamamu, sudah  cukup.

Toh kita  harus  kembali  pada  keputusan  Tuhan  yang  tak  sanggup  kita  paksakan. Terima  kasih  sudah  pernah  datang.

Kharisma  De  Kiyara

Jumat, 13 Oktober 2017

Perihal Rencana

Masing-masing dari kita memiliki rencana untuk mencapai apa yang hendak dituju. Meski susah dan kecemasan akan kegagalan menjadi sebegitu menakutkan -seperti hantu menghidupkan malam yang mati- tapi kita bisa belajar banyak. Tentang ketabahan menanti, ketulusan menjaga yang didapatkan dan kerelaan melepaskan.   

Rencana itu sebatas cara kerja kepala agar tak jengah berpikir. Perihal apa yang akan dilakukan untuk mewujudkannya  adalah hak masing-masing. Dan kita, sedang memikirkan cara merealisasikan rencana yang tersusun di kepala.

Kita tidak bisa hanya duduk menanti,  sebentar kemudian bergumam,  "Ah, sebentar lagi! Masih ada waktu kok!" sampai-sampai habis waktu dan sia-sia saja kepala itu bekerja.

Ada kaki yang harus kita langkahkan untuk menuliskan riwayat perjalanan lewat jejaknya. Entah itu melewati jalan raya, gang-gang kecil, kelokan bahkan lembah di gunung, atau apapun yang bisa ditempuh -sebab kemustahilan itu letaknya pada mimpi- semua akan mengamini langkah kita, menemani sampai ke muara impian.

Kembali lagi pada awal memulai, diam-diam kita juga telah menuliskan akhir yang menakjubkan -meski  masih  rahasia tapi tetap  semua  ujungnya  sama. Kau mendapatkan lalu ada saatnya melepaskan. Kau tak mendapatkan apa yang kau tuju, tapi tahu, ada yang lebih baik lagi dan tetap kemudian harus pergi.

Sampai pada  akhirnya, yang  jadi  kepunyaanmu  sendiri, yang  jauh  dari  fana  adalah  keyakinan dalam  hatimu  bicara.

Rabu, 27 September 2017

Cinta Itu Luka

Terkadang susah menerjemahkan arti cinta yang sesungguhnya. Apakah luka atau suka? Atau keduanya?

Kebanyakan orang beranggapan, dengan cinta semua akan baik-baik saja. Tapi tak mengelak jika dikatakan bahwa  dalam  cinta  itu  menyimpan  luka. Hanya  saja, karena  keegoisan diri  kita  yang ingin  selalu  memenangkan perasaan, menjadi  buta  dan  malah  menganggap luka  hanyalah  kiasan  atau  pun  pengorbanan.

Mungkin, begitulah  cara  untuk  menguatkan diri  agar  benar-benar bisa  terlepas  dari  luka  itu  sendiri. Oh, ini  hanya  ujian. Oh, akan  datang  cinta  yang  benar, yang  lebih baik, yang  lebih... Ah ~ (baca : tak  terhingga)

Jangan  bertindak  bodoh  karena  terluka! Jangan  bersikap apatis  jika  kau  sudah mengenalnya! Rasanya  memang  pahit dan sakit, apalagi  setelah  melewati  almanak-almanak, kau  akan  lebih  merasakannya  pada  saat  ingatanmu kembali  terbuka. Kenangan! Sebenarnya  kenanganlah  yang  terluka. Ketika kembali  kita  mengingatnya, ah, alangkah  malang  nasib  hati yang sepi, belum  terobati  tapi siksa  itu  muncul  dan  terbuka kembali  luka  yang  sengaja  telah  kita  tutup dengan  rapi.

Bukan  menakut-nakuti. Ini faktanya! Lalu bagaimana?

Kau yang lebih bisa menjaga hatimu agar tetap bersahaja. Kenangan tak akan bosan mampir, ia sesekali mengunjungimu, karena ada rindu. Sambut dan terimalah kedatangannya sebagai pengingat bahwa kau KUAT.  Kau bisa mengalahkannya walau airmata tak hentinya menderas. Wajar. Menangis itu jangan ditahan. Lepaskan.

Ingat semua lukamu sebagai pertanda bahwa kau butuh obat dan bukan menjauhinya. Ingat kau terluka untuk kembali sembuh dan bangkit. Mengalahkan perasaan itu susah, tapi setidaknya, pribadimu akan berbeda. Lebih mawas diri dan bersahaja.

Percayalah pada penciptamu, bahwa segala hal yang menimpamu, tidak mungkin tidak bisa kau lewati. Bahwa rencana lebih besar sedang menantimu selepas sakit dan penderitaan atas kerelaan hatimu bersabar.

Kharisma De Kiyara
27-9-2017

Sabtu, 02 September 2017

Demi Kebaikan Kami Rela

Cerpen Kharisma De Kiyara

Menjelang akhir Agustus 2017, Dori lebih sering gelisah. Dengus napasnya memburu sedemikian cepat, pacu jantungnya bahkan bergeletar hebat. Suti yang menyaksikan kegelisahan kakaknya itu pun kebingungan. Perasaannya juga berkecamuk tak keruan. Akankah nasib yang menimpa kedua orang tuanya juga akan terjadi pada mereka?

Suti dan Dori patut bersyukur sebab keluarga Pak Darmawan yang  budiman  bersedia  mengangkat mereka  menjadi  bagian  dari  keluarga. Pak Darmawan menemukan mereka di kebun belakang rumah dalam  keadaan mengenaskan, kurus, berwajah  muram  sebab  raut  kesedihan, dan  lagi  mereka  yatim  piatu. Yang  pada  saat  itu  Suti  dan  Dori  tengah  bersembunyi  sebab  dikejar-kejar  orang  sekampung  akibat  merusak  ladang  mereka. Mengambil  tetanaman  dan  dijadikan bahan  makanan. Riwayat mereka  sampai  kelaparan  sendiri  adalah  tak  lain  karena  melarikan  diri  dari  kampung  sebelah  setelah  kematian  kedua  orangtuanya yang menyakitkan.

Kejadian itu sudah setahun silam, tapi masih melekat di kepala Suti. Dua bulan pertama bahkan setiap malam ia menangis. Sedang Dori lebih sering murung dan ketika malam tiba ia habiskan dengan menatap gemintang yang bertebaran di langit. Matanya begitu takjub, setidaknya keindahan itu yang mampu membuat jiwanya tenang.

Tidak kali ini. Langit malam di bulan Agustus 2017 menjadi begitu kelam.  Ketakutan luar biasa menjalar di sekujur ingatan dan hati kakak beradik itu.

"Ayo anak-anak makan yang banyak biar kalian pada gemuk," kata Pak Darmawan setiap harinya.

Pak Darmawan memerhatikan mereka sedemikian rupa. Kebutuhan mereka bahkan terjamin semenjak tinggal bersama keluarga Pak Darmawan. Diasuh dengan asih serta ketulusan yang murni dari hati. Pak Darmawan dan istrinya pun juga bangga memiliki Suti dan Dori, setidaknya mereka punya teman setelah kehilangan kedua anak mereka yang meninggal terseret banjir bandang lima tahun lalu.

Pak Darmawan sendiri hanya bekerja serabutan. Kadang menjadi tukang bangunan, tukang parkir dan tiap kali tetangganya membutuhkan untuk dimintai pertolongan membetulkan perkakas rumah yang rusak, saluran air yang mampet. Dan ia hanya akan memeroleh upah tak lebih banyak dari peluhnya. Beruntung, Bu Darmawan sangat sabar dan telaten. Meski hidup serba kekurangan tetap saja mereka adalah keluarga yang harmonis apalagi semenjak kedatangan Suti dan Dori.

"Aku ingin pergi," kata Dori di suatu malam, minggu ketiga bulan Agustus.

"Kita mau ke mana mas? Kita sudah dirawat bapak dan ibu masak mau pergi gitu aja?"

"Daripada kita mati konyol seperti orangtua kandung kita Suti! Kau mau?"

Mata Dori merah marah. Sejak itu ia tak lagi mau makan pemberian Pak Darmawan. Makanan yang disajikan dibiarkannya utuh di tempat semula. Tak terjamah, sekalipun ia sangat lapar.

"Kau masih mau makan Suti?" delik Dori pada adiknya.

"Aku lapar. Kalau kepalaran kita akan lebih mati konyol! Lebih baik berbuat baik, toh, Allah lah yang telah mengatur semuanya. Jadi, jangan menyiksa diri sendiri. Itu tidak baik! Allah tidak senang!"

"Bukannya kamu juga takut kita akan mati Suti?"

Suti mengangguk mantap. "Benar, aku memang ketakutan. Tapi setelah aku pertimbangkan. Ketakutan itu tak akan membuahkan apa-apa, tak akan menjadikan kehidupan kita semakin baik dan berjalan semau kita. Kodrat kita, takdir telah mengaturnya. So, santai saja!" kata Suti sembari terus mengunyah makanan favoritnya.

                                                               ***

Berbondong-bondong warga Desa SugihAsri melaksanakannya sholat Id di pelataran masjid Al-Barokah. Tak terkecuali Pak Darmawan, Bu Darmawan, dan kedua kakak beradik Dori serta Suti.

" This time, Suti!" kata Dori  usai seluruh  warga  melaksanakan  sholat  Idul  Adha.

" Bismillah saja mas!"

Pagi itu, Dori dan Suti menyunggingkan senyum mereka melihat Pak Darmawan dan Bu Darmawan juga sedemikian bahagia. Bahwa pada akhirnya, pasangan suami istri itu bisa mengorbankan kedua kambing tersebut atas nama kedua anak mereka yang telah tiada. Kambing yang gemuk dan sehat tentu saja.

"Wah  Pak, Bu  Darmawan. Ini  kambing  yang  nemu  waktu  itu  ya?" seloroh salah  satu  warga.

Pak  Darmawan mengangguk  mantap. "Iya  Bu, rezeki. Kita  sudah  _woro-woro_ ke  mana-mana tapi  nggak  ada  yang  ngakui. Ya  sudah kita  rawat  saja," jawab  Pak  Darmawan.

"Alhamdulillah ya, Pak! Tak salah kita merawat dua kambing yang kita temukan waktu itu," ujar Bu Darmawan melihat kepala Suti dan Dori sudah terpenggal.

Minggu, 27 Agustus 2017

Sajak Rindu di Tengah Malam

Untukmu yang menjadi baying-bayangku
dalam sepi, ketika tik-tak jam dinding berdenting
dua belas kali dan rembulan sedang cemerlang
tinggi-tinggi di langit yang lindap sunyi

Sudah lelapkah mata wagumu
ataukah keterjagaan sedang menerpa
sepertiku yang enggan terlelap sebab
terlampau panjang gelisah?

Yang mungkin kau pahami sebagai rindu
dibungkam jarak dan waktu, tiada temu
dan kiranya kepastian bersatu

Dalam kepala gelisahku berdenyar tanya
Adakah kau doakan aku sebagai harapan
semoga terkabul menjadi masa depanmu?
Jika, ya, maka kita sama dan sekali lagi tanyaku
berapa kali kau sebut namaku, Tuan?
Dan jika tidak, maka biarkan takdir
yang menjawabnya

Di tengah malam begini, sepi semakin merasuk
bening rindu menjalar liar di kepalaku
menyelimuti setiap ingatan dengan namamu

Di tengah malam begini, aku mendoakanmu
Aku merindukanmu

Kharisma De  Kiyara
Magetan, 27 Agustus 2017
01.09 WIB

Selasa, 22 Agustus 2017

Manusia yang Terlahir Dalam Sepi

Sebelum ia lahir, rahim yang mengandungnya adalah tempat paling hening. Sebermula ia bersemayam di sana, tak mendengar kata-kata, tak melihat cahaya, tak mencium anyir dan wewangi, tak mengenal dunia.

Pada bulan ketujuh tepat ketika purnama sedang berdarah di langit malam yang tiada bintang itu, ia mendengar satu suara. Ialah Ibunya yang berkata terisak-isak.

"Anakku, kelak matamu adalah malam yang purnama menyelimuti hening di langit."

Ia menendang perut ibunya, ingin leluasa merentangkan tangan, menggerakkan kaki, keluar membelah sunyi.

Pada bulan ke delapan tepat ketika Ramadan sudah jatuh pada hari ke tujuh belas, ia mendengar lagi suara Ibunya.

"Anakku, kelak bibirmu adalah doa-doa suci yang menyempurnakan keheningan kita menjadi lebih abadi."

Ia mengejangkan tubuhnya, seketika perut Ibu meliuk-liuk. Tangan Ibu mengusap sambil sesekali merintih. Dan beberapa jenak berlalu ia telah tenang kembali.

                                                                °°°

Ia telah jadi dirinya sendiri sejak tiada sesiapapun dimiliki. Maka ia bermimpi, ingin kembali ke rahim Ibunya dan menerka-terka hidup di dalamnya.

Kini, setelah jauh kakinya melangkah, melewati hari-hari, minggu, bulan dan meninggalkan almanak-almanak, ia kesakitan dengan kesendirian. Beberapa teman hanya dijadikan alasannya bergurau tawa. Lalu, ia akan kembali menjadi dirinya sendiri. Sunyi.

"Aku harus ke mana lagi?" di sebuah almanak yang menggantungkan usianya di angka dua puluh, ia gelisah hendak melintang ke mana lagi. Belahan bumi telah ia telusuri lewat mata yang tak henti mengerjap. Siang malam ia lalui dengan menulis riwayat-riwayat perjalanannya.

"Ke timur... Ke barat... Ke utara... Ke selatan... Ke arah yang tak ada riuh," bisikan itu menggema di telinganya. Tanpa sadar, ia mengangguk. Seakan terhipnotis, kakinya mulai mengayun langkah, tanpa bekal sebutir nasi, setetes air jua. Ia menyisir loka-loka, mendaki tebing-tebing terjal, menuruni lembah-lembah, melewati gurun tandus, menyeberangi lautan, dan...

Sebuah lorong lengang sehadapan dengannya. Gelap. Ia tak mampu meraba seberapa panjang lorong itu. Hatinya bergejolak, _masuk_ , _masuk_ , _lewati_ .

Setelah ribuan menit ia termenung, tanpa perbekalan cahaya langkah kakinya terayun kembali. Memasuki lorong sunyi yang gelap, tiada suara barang lelawa atau cericit penghuni lainnya. Tubuhnya direpetkan ke tembok, menyisir pinggir-pinggir agar tidak terjungkal, barangkali ada batu melintang di tengah jalan.

Napasnya terengah. Di sana sungguh gelap. Mungkin hanya matanya yang cahaya. Napasnya yang bunyi sengal. Ia dengar sendiri embusan napas, detak jantung dan suara ribut di kepalanya. Apakah ini sunyi yang sebenarnya? Mengapa tak ia temui apa-apa? Jangan-jangan, sunyi memang tak menarik. Barangkali, sunyi tak suguhkan apa-apa. Jadi, ia sia-sia berjalan mengayun arahnya mencari kebenaran akan sunyi.

Benar! Ia memang dalam sebuah misi pencarian arti sunyi. Seperti kata mendiang Ibu, "Sunyi adalah kenikmatan. Keindahan yang mata akan jadi buta. Telinga jadi tuli."

"Sunyi adalah rindu yang selalu Ibu tunggu!"

Ia terngiang-ngiang kekata Ibu. Sejauh ini, ia hanya menemukan airmata. Saat sendiri, sepi, ia mengingat kenangan-kenangan selama perjalanan. Yang paling sesak adalah sesal. Kekejaman masa lalu adalah bayang menyeramkan. Dan ia selalu menemukannya saat hening. Saat kepalanya mencari celah memeluk kerinduan yang sebenarnya.

"Apakah rindu sesakit ini?" tanyanya pada diri sendiri.

Lupakan! Ia harus mencari sunyi. Perjalanannya entah masih berapa lama lagi. Sejauh ini, belum ada titik cahaya didapati.

Dalam keletihan yang panjang, saat peluhnya telah banjir, didapatinya kilau cahaya di jarak beberapa ribu inchi. Jalan! Itu adalah jalan. Hati menuntunnya ke sana. Kakinya tak lagi rasa pegal. Semangatnya sudah sampai di ubun-ubun. Apa yang akan diketemukannya di sana?

Laut lagi. Malam lagi. Hamparan pantai yang ombak menyapu dengan debur tenang. Angin malam menusuk tulang. Langit bergumintang, rembulan terang, auman serigala menggelegar. Ia duduk di sana. Merebahkan pantat ke pasir yang lembut.

Ia tak membawa arloji, sekarang pukul berapa, hari apa bahkan ia tak lagi peduli. Tapi ia sudah cukup lama berdiam di sana. Malam terasa begitu panjang. Atau memang malam tak benar-benar hilang?

Saat itulah, di sebelah barat dari laut, ada tebing di mana seorang pertapa akan segera bangun dari seribu tahun pertapaannya. Seorang pertapa dengan janggut sepanjang-panjang hari, mata merah nanar, guratan di wajah yang tak lagi samar. Jelas. Ia pertapa yang tua.

Pertapa itu bernama Ki Lanang. Matanya sempurna terbuka. Ia telah sempurna bertapa seribu tahun lamanya. Di bawah, ia melihat seorang pria sedang memagut dagu pada lutut. Menatap ke laut. Ki Lanang tersenyum kecut.

"Naiklah ke tebing sebelah barat!" suara itu mengagetkan ia yang tengah jengah memandang laut. Ia menerka-terka suara siapakah itu. Berat. Garang. Laki-laki tua sepertinya.

Ia mengikuti arah suara itu sebermula. Ia mendaki tebing, lututnya terluka tergores batu-batu terjal. Tak mengapa, sudah setengah jalan. Ia akan terus mendaki.

Sampailah ia di ketinggian paling hening. Rimbun dedaunan bergesekkan mencipta irama paling seram. Bertolah-toleh, siapa gerangan tadi yang menyuara?

"Ke sini!" ia menoleh ke arah suara. Matanya sejurus menatap pada tubuh yang sangat ringkih. Kurus. Janggut putih menjulur. Mata merah, bibir tertutup rerimbun putih.

"Kau siapa?" tanya laki-laki itu pada si pertapa.

"Terima kasih telah datang membangkitkanku!"

Laki-laki itu mengerut dahi. Tak mengerti.

"Seribu tahun aku menantimu. Kudengar, ada seorang anak yang terlahir dari sunyi akan datang. Maka seketika itu, aku bertapa. Sampai kau datang kini."

"Seribu tahun?" laki-laki itu menekankan tanya.

Ki Lanang mengangguk. "Akulah yang kau cari!"

Laki-laki itu masih tak tahu maksud perkataan si pertapa. Ia duduk sehadapan dengannya. Menatap lekat Ki Lanang, mereka beradu pandang.

Ki Lanang menceritakan sebermula ia di kandungan yang Ibunya membuihkan kesunyian.

"Lihat dirimu! Manusia yang terlahir sepi. Matamu adalah malam berkelindan hening. Yang temaram lindap semakin menjadi. Seorang diri di tengah-tengah langit, tanpa bintang bahkan rembulan, hanya kau berselimut kabut pekat. Juga bibirmu adalah perapal doa sejati yang tak memintakan cahaya, biarkan kegelapan mengepungmu, lebur bersama ingatan yang semakin panjang mengenang. Maka sekali lagi, wajahmu adalah sepi itu sendiri. Tiada raut apa-apa yang kau bagi, kau tikam sendirimu dengan diam. Wajahmu yang biru, wagu, ragu, apalagi? Kau adalah penyendiri paling handal, bersembunyi dibalik parasmu yang tak pernah  selalu  tampak sepi."

"Apa  maksudmu?"

"Aku  adalah  jiwamu. Aku  adalah  bagian  darimu. Aku  dan  kau  adalah  satu. Jiwa  utuh. Sunyi  itu  sendiri,"  laki-laki itu  semakin  tak  mengerti.

Seketika, Ki  Lanang  merubah  wujudnya  merupa kabut  putih. Berputar-putar mengitari tubuh  laki-laki itu. Kabut  putih  itu  lantas  menerjang  tubuhnya, merasukinya. Laki-laki itu  mengejang  dan  tak  sadarkan  diri.

                                                               °°°

Kharisma De Kiyara
Agustus 2017

Rabu, 02 Agustus 2017

KAMU

Di rahim rinduku mengandung namamu
yang tiap detiknya kian membesar
mengalahkan sembilan bulan

Di kanalku penuh aliran napasmu
yang embusannya sederas rasaku
kelak sampai pada muaranya, bertemu

Di ruang sunyi, kudengar sayup suaramu
membisiki sepi supaya jauh-jauh pergi
sebab kau telah datang, menunaikan tugas
menjadi tulang rusuk sejati

Kharisma De  Kiyara
8 Juni 2017