Senin, 17 Mei 2021

Sepertiga Malam

Ada waktu terbaik untukmu menenangkan gelisah. Ialah bila kau terjaga ketika lelap menyerang hebat bahkan masih mendekap orang-orang. Kau bisa kalahkan kantuk itu, kau bergegas mengambil wudlu, kau mengucap salam, bertemu Tuhan.

Ada waktu terbaik untukmu merenung, meresapi kemudian mengambil makna atas apa yang telah terjadi. Kau jadi bisa menimbang, apa yang menimpamu tidak lain berhubungan erat dengan hukum sebab akibat. Kau jadi paham, akar dari pelik adalah dirimu sendiri.

Ada waktu terbaik untuk menata ulang rencana. Kau masih belum terlambat. Bersyukurlah Tuhan mengingatkanmu dan kau tidak semakin terjerumus ketika dalam keadaan yang bisa dikatakan tidak baik, sebaliknya, kau semakin mengingat-Nya dan menyadari.

Akhirnya, kau pun paham. Kau mengerti. Dan kau tidak ingin lekas menyerah meski lelah, meski telah berurai air mata. Kau masih ingin bertahan sampai waktu yang menghentikan. Sebab tak henti-hentinya kau yakin, Tuhan Maha Mendengar berada tepat di hatimu, mendengarmu, dan ada rahasia yang sedang Tuhan kerjakan untuk kebahagiaanmu.

Bila sudah tiba waktu, ingat kembali kejadian menyakitkan ini. Agar kau tidak lupa diri. Agar kau bisa menjaga dan berhati-hati. Agar kau tahu cara mensyukuri nikmat Tuhan yang tak pernah dapat didustakan. 

Percayalah....
Bersabarlah....

Minggu, 16 Mei 2021

Sebuah Cerita Pedih /1/

Sebuah bangku di bawah pohon trembesi itu sudah lama tak ada yang menyinggahi. Terakhir kali, mungkin bertahun lalu, ia duduk di sana. Sisanya hanyalah orang-orang yang berlalu-lalang, sekadar lewat dan tak punya waktu untuk istirahat sejenak.

Dan tahun ini, ia kembali duduk di sana, setelah sekian lama. Ia baru saja keluar dari salon. Rambutnya masih wangi shampoo dengan potongan pendek di atas bahu. Sebelumnya, ia biarkan rambut tergerai sampai ke pantat, tapi karena sudah terlalu jengah, ia memutuskan untuk memotong lebih dari separuh rambut panjangnya. Sedikit menyesal, karena wajahnya terlihat lebih bulat sekarang, tapi senang juga karena rasanya seperti menjadi orang baru dan ia benar-benar siap meninggalkan dirinya yang lama. Ia telah menjadi seseorang yang akan berubah setelahnya.

Duduk di bawah pohon trembesi, ia mendongak memandang lebat daun dan buahnya yang ia kira sebentar lagi buah-buah itu akan berjatuhan dan mengotori jalan di sekitar. Dan ia membayangkan dulu sekali, tatkala pulang sekolah, ia kerap melewati jalan itu memungut buah-buah trembesi, mengumpulkannya dan dibawa pulang. Jika diingat, ia tak habis pikir mengapa melakukan hal itu padahal buah-buah itu tidak ia gunakan untuk apapun juga. Hanya dipandangi, dijejer rapi, setelah bosan lalu dibuang.

Ia tersenyum simpul.

Masa itu, adalah masa yang indah. Tak ada beban berat dipanggulnya kecuali tugas sekolah yang bisa dikerjakan bersama teman-teman. 

Tak lama, ia menunduk, memandangi kedua kakinya berayun bergantian kanan dan kiri, melihat daun dan buah trembesi berserak, mengingat....

Pahit. Sebisa mungkin ia meredam ingatan itu. Sekuat mungkin ia coba untuk tidak kembali pada masa itu. Ia berusaha menepis bayangan itu. Tapi gagal.

Seketika, ia merasa menjadi manusia paling buruk di dunia. Dan ia membayangkan dirinya menjadi buah trembesi itu, lelah bergelayut, memutuskan untuk jatuh dan terserak sia-sia. Diinjak kaki-kaki yang rapuh, ditendang anak-anak yang kelewat riang mendapat hadiah, sampai buah trembesi itu menjadi busuk dan hilang....

Berat. Sesak. Ia sedang menahan air matanya agar tak jatuh. Ia sedang menahan gejolak hatinya agar tak semakin rapuh.
Tapi....
Tapi ia tak bisa.
Maka berlinang sudah bulir bening dari matanya, bergelincir di pipi mulusnya sampai jatuh dan membuat titik basah di baju birunya.

Oh, mengapakah ia semenderita itu? Apakah ia merasa bahwa kesedihan sedang mengepungnya seorang? Apa yang sebenarnya terjadi padanya?

Ia tak berani pulang ke rumah dalam keadaan buruk seperti itu. Ia tak mau orang-orang melihat mata sembab dan murung wajah bulatnya. Ia harus terlihat baik-baik saja. Tersenyum manis kepada siapapun juga.

Oh, bisakah ia bertahan?

Bersambung....

Malam, Baginya....

Malam....
Baginya adalah tangis yang tak kunjung henti
bahkan ia tak tahu, kapankah hari akan menjadi tenang
dan ia berandai, barangkali ketika kematian menjemput lalu semua akan berakhir baik-baik saja. Ya, barangkali saja.

Malam....
Baginya tak ubah seperti jerit serigala yang terdengar ke segala penjuru, membuat bergidik ngeri siapapun yang mendengar, sementara jerit hatinya melejit bagai busur panah menembus angin dan tak tentu arah --tak ada yang peduli
dan ia berpikir alangkah hidup teramat panjang rasanya jika kesedihan mendera
alangkah malam semakin nyala terang jika kecamuk hati sedang ribut-ributnya

Malam....
Tak ada ketenangan baginya
mata tetap terjaga
ingatan semakin bersinar bak rembulan
dan tangis
dan segala yang dirasakan hatinya --sesal, kesal, lelah, jengah, sedih, pedih
menyatu dalam pijar-pijar cahaya
yang menyala dibisik doa


Magetan, 2021

Sabtu, 08 Mei 2021

DALAM DIAM

Kenyataan bahwa kamu sudah tidak peduli adalah hal menyakitkan. Tapi segera aku sadari, bahwa perilakumu begini adalah akibat dari perilakuku juga.

Maka... Aku hanya bisa menerima. Memahami kehendakmu, meski belum berhenti berusaha untuk terus memberimu kabar dan kenyataan kamu tidak pernah merespon satu kata pun.

Tidak mengapa.
Tidak jadi soal buatku.
Aku bisa menerima.
Aku sudah terbiasa.
Tapi rasaku padamu tidak pernah bisa dibilang biasa-biasa saja.

Dalam diam ini, keheningan tak ubahnya pisau yang tajam menusuk. 
Dalam diam ini, doa tak ubahnya mantra yang selalu dirapalkan lalu terselip pula namamu.
Dalam diam ini, rindu tak ubahnya nyamuk yang habis mengisap darah ingatanku.

Bagaimanapun kamu, aku tetap menanti kabar dan sabar :)

Rabu, 14 April 2021

SEHANCUR ITU

Kau sudah tahu sehancur apa aku sekarang?
Kata-kata menguap bagai kepul asap yang sekejap menghilang terbawa angin, entah ke mana, barangkali membaur bersama udara dan terhidu hidung-hidung lantas tak ada yang menyadari bahwa di dalamnya mengandung aroma kesedihan.

Kata-kata mengalir bagai arus banjir di kota besar, menerjang apa saja tanpa peduli yang dilaluinya, entah itu bangunan megah, atau itu para lansia atau anak kecil, siapapun yang diilihatnya, tanpa iba dan peduli, arus tetaplah arus, membandang, menghancurkan apa saja. Dan semua panik, berteriak ketakutan, memohon ampun dan keselamatan. Tapi mereka tak tahu, arus itu memiliki rasa pahit yang tak tertawarkan oleh apapun, seperti yang sedang kurasakan kini.

Kata-kata terbang bagai merpati, mengepak sayap ke angkasa, menjelajah seluruh pelosok sampai ke jengkal-jengkalnya. Menemukan rimba, menyalami gedung-gedung tinggi, menemukan gadis kecil terisak di makam ibunya dan merpati itu bertengger manis di pundaknya. Merpati itu merasakan getir air mata yang jatuh dari gadis kecil itu. Ia ingin sekali menghibur tapi tak bisa. Gadis kecil itu menguarkan aroma kematian, barangkali ia sedang menawarkan dirinya untuk dipersembahkan pada malaikat, agar ia dijemput paksa demi bertemu ibunya.

Gadis kecil itu adalah aku
aku yang merangkai kata-kata
aku yang sedang tidak tahu menulis apa

KETIKA KAU PERGI

Ketika kau memutuskan pergi, aku telah menjadi keping kenangan dalam hidupmu, menjadi masa lalu yang layak kau kubur dalam makam ingatanmu.

Ketika kau memutuskan pergi, sedetikpun aku tak menyerah lantas memilih ikut bergegas. Tidak. Hatiku masih berkekasih denganmu, meski kau sudah lain. Doaku masih ada namamu, meski kau tidak mengamini.

Ketika kau memutuskan pergi, mataku tak hentinya bicara sepanjang malam, sepanjang siang, sepanjang pagi, sepanjang sepi. Ia terus bicara tanpa suara, menyesalkanmu yang tak lagi cinta.

Tidak, tidak! Mataku menyesalkan 'aku'

Aku yang telah menyia-nyiakanmu. Lebih kurangku kini tak lagi ada yang mendekap. Tak lagi salam dan sapa hangat. Nyatanya, hal itulah yang kini teramat kurindukan. Teramat sangat ingin kurasakan. 

Aku sudah tidak menginginkan apapun lagi, selain dirimu. Bahkan nyawaku sendiri, aku tidak lagi peduli.
Bodoh memang. Hanya karena perasaan, aku bisa segila ini.

Baca ya, semoga kau bisa merasakan, sehancur apa aku sekarang.

Senin, 12 April 2021

TANGIS

Tangis adalah musuhku
musuh yang belum dapat kukalahkan

Ia senang sekali mengganggu mataku
meski di musim kemarau sekalipun
tak pernah habis pula air yang bersejatuh
seperti ingin membasuh
seperti ingin mengingatkan kembali
dan tak membiarkanku lepas dari ingatan ini

Tangis adalah musuhku
musuh yang entah kapan dapat kupatahkan

Ia tak pernah lelah mengajakku kelahi
bahkan ketika malam hari, ketika sunyi meninggi
dan tak ada suara selain desau angin resah
cericit tikus yang cemas diburu racun
tetap saja, ia datang sebagai lawan
dengan senjatanya yang menyurutkan nyali

Tangis adalah musuhku
aku adalah tangis itu.


Magetan, 2021