Rabu, 02 Agustus 2017

Jemala Kemunafikan

Bibir di jemala itu mengucapkan kata-kata perihal dosa yang mesti ditebus akibat dusta. Apakah  ia  tahu  makna  yang  diucapnya? Begitu  berandang mengalir  serupa  doa  yang  ia  rapal  saban  hari, membuatnya  berpikir  bahwa  setiap  jejaknya  ialah  suci.

Ia  kubra menilai  tabiat  dirinya, sebab  cermin  seringkali  buram  setelah  hujan. Membelamkan  bayangan  dan  ia  tak  sanggup  lagi  meraba  seperti  apa rupa  sebenarnya.

Manusia tak  lagi  pikir  panjang  akan  kekeliruan. Asalkan  ia  senang  dan  perutnya  terbungkam  dari  lapar, sudah  cukup  baginya  bertutur  kebijakan.

Aku  dan yang lain  menggeritkan penolakan, mengatainya  sebagai kemunafikan. Yang  dibibirnya  berkata surga  tapi  hatinya  membatin  neraka. Yang  tindakan  di  muka  umum  bersahaja, di  belakang  ia  membabi  buta.

Sudahi berucap angkuh bergelegak. Jangan  menunggu  Tuhan  yang  membungkam. Itu  sangat  mengerikan!

Kharisma De Kiyara
26 April 2017

Tidak ada komentar: