Bibir di jemala itu mengucapkan kata-kata perihal dosa yang mesti ditebus akibat dusta. Apakah ia tahu makna yang diucapnya? Begitu berandang mengalir serupa doa yang ia rapal saban hari, membuatnya berpikir bahwa setiap jejaknya ialah suci.
Ia kubra menilai tabiat dirinya, sebab cermin seringkali buram setelah hujan. Membelamkan bayangan dan ia tak sanggup lagi meraba seperti apa rupa sebenarnya.
Manusia tak lagi pikir panjang akan kekeliruan. Asalkan ia senang dan perutnya terbungkam dari lapar, sudah cukup baginya bertutur kebijakan.
Aku dan yang lain menggeritkan penolakan, mengatainya sebagai kemunafikan. Yang dibibirnya berkata surga tapi hatinya membatin neraka. Yang tindakan di muka umum bersahaja, di belakang ia membabi buta.
Sudahi berucap angkuh bergelegak. Jangan menunggu Tuhan yang membungkam. Itu sangat mengerikan!
Kharisma De Kiyara
26 April 2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar